Ada kurang lebih 1.690 desa di Maluku dan Maluku Utara, tapi tak semuanya bernasib sama. Hingga Republik Indonesia (RI) genap berusia 70 tahun pada 17 Agustus 2015 lalu, masih ada sekitar 400 desa di Maluku dan Maluku Utara yang belum mendapat listrik.
Jika dihitung berdasarkan pulau, ada kira-kira 2.000 pulau di Maluku dan Maluku Utara, dan 200 pulau di antaranya sudah berpenghuni. Tapi hanya 46 pulau yang sudah terang benderang, karena mendapat pasokan listrik dari PT PLN (Persero).
Sebagian besar desa yang belum mendapat listrik berada di pulau-pulau terluar Indonesia, lokasinya terpencil. Namun, bukan berarti mereka tidak berhak menikmati fasilitas listrik dari negara. Karena itu, pemerintah menugaskan PLN untuk membangun pembangkit-pembangkit listrik di pulau-pulau terluar pada tahun ini. Sampai hari ini, sudah 35 pulau yang berhasil dialiri listrik oleh PLN.
"Total ada 890 desa di Maluku dan 800 di Maluku Utara. Ada 400 di antaranya belum terlistriki, 35 sudah terlistriki dari program listrik pulau terluar," kata General Manager PLN Maluku-Maluku Utara, M Ikhsan Asaad, saat berbincang dengan detikFinance di Kantornya, Ambon, Rabu (26/8/2015).
Ikhsan menuturkan, PLN kesulitan melistriki 400 pulau yang belum tersentuh tersebut, karena berbagai hal. Mulai dari keterbatasan sarana pendukung untuk jaringan listrik PLN, wilayah yang sangat terisolasi, penduduk yang terlalu sedikit, hingga budaya masyarakat yang belum mengenal uang.
Belum adanya jalan raya membuat PLN sulit membangun jaringan listrik. Wilayah yang terisolasi membuat PLN tak bisa mengirim alat-alat listrik ke wilayah tersebut. Jumlah penduduk yang sangat sedikit membuat pembangunan pembangkit listrik menjadi tidak ekonomis. Belum masuknya budaya uang membuat PLN tak bisa menjual listrik pada masyarakat.
"Ada yang sarana nggak ada jalan. Ada yang penduduknya hanya 5 orang, kan nggak ekonomis. Ada juga transportasinya ke sana nggak ada. Parahnya lagi beberapa tempat, misalnya di Pulau Aru ada 7 desa, masih belum kenal uang," dia mengungkapkan
Meski begitu, Ikhsan mengaku terus berupaya mencari cara, agar listrik bisa masuk ke seluruh pelosok Maluku-Maluku Utara. PLN menargetkan, rasio elektrifikasi Maluku-Maluku Utara yang saat ini masih 75% bisa naik sampai 80% tahun ini, dan mencapai 100% pada 2019.
Karena itu, pihaknya terus menggenjot pembangunan pembangkit-pembangkit baru di pulau terluar dan daerah perbatasan pada tahun ini. Diharapkan tahun ini kapasitas terpasang listrik di pulau terluar dan perbatasan yang berada di Maluku-Maluku Utara bisa bertambah 14 megawatt (MW) di 12 pulau. Daya listrik sebesar 14 MW ini bisa melistriki 28.000 pelanggan baru.
Sejauh ini, PLN sudah mendapatkan 6.000 pelanggan baru di pulau-pulau terluar dan perbatasan di Maluku-Maluku Utara. Untuk menarik minat masyarakat setempat, PLN menggratiskan biaya pemasangan instalasi dan memberikan pulsa listrik Rp 20.000. "Kemarin ada program pemerintah listrik gratis (di pulau terluar dan perbatasan), sudah dapat 6000 pelanggan baru. Biaya instalasi gratis plus voucher token Rp 20.000," paparnya.
Diharapkan, pembangunan listrik di pulau-pulau terluar dan perbatasan ini bisa memajukan perekonomian masyarakat setempat yang selama ini masih tertinggal. Dengan adanya listrik, berbagai fasilitas infrastruktur dan industri bisa dibangun, kesejahteraan masyarakat pun bisa meningkat. "Kami dorong Pemda bangun pelabuhan, industri, cold storage untuk ikan, kita akan layani semuanya," pungkas Ikhsan.
sumber : http://finance.detik.com/read/2015/08/27/072649/3002466/1034/2/70-tahun-ri-merdeka-400-desa-di-maluku-belum-dapat-listrik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar